Langsung ke konten utama

Postingan

#4: Perjumpaan

Aku rindu. Kala sore duduk di taman bersamamu. Angin lembut membelai pipiku, menggoyangkan rambutmu. Ia seakan ingin bergabung dalam obrolan seru kita. Tak ingin ketinggalan barang hanya satu kata. Obrolan itu tak pernah terencana. Lahir dan mengalir begitu saja. Kadang-kadang dimulai dari suatu pernyataan "seandainya". Mata kita menerawang jauh. Menembus batas-batas dimensi. Mengimajinasikan apa yang pantas diandaikan. Sesekali kita tertawa, sadar bahwa semua hanya ilusi belaka. Pernah juga suatu kali, obrolan kita terlalu dalam, hingga membuat salah satu di antara kita menangis. Tentang bagaimana hubungan kita nanti, tentang masa depan yang tak jelas, tentang semua yang abu-abu—topiknya tak jauh dari semua itu. Pernah juga tentang beban yang kita tanggung masing-masing: tanggung jawab di keluarga, beban moral yang entah asalnya dari mana, hingga kondisi mental kita. Tak jarang pula kita saling melempar opini. Baik aku maupun kamu tak ingin kalah. Kita beradu pendapat, kadan...

Catatan Khusus Hari Kartini: Jadi Wanita Mandiri atau Bergantung pada Lelaki?

Halo, semuanya. Selamat segala waktu. Tentu kita tahu bahwa hari ini Indonesia sedang memperingati hari kelahiran salah satu pahlawan wanita di Indonesia. Apa lagi kalau bukan Hari Kartini. Seperti yang kita pelajari di buku Ilmu Pengetahuan Sosial sejak SD sampai SMA, Raden Ajeng Kartini merupakan sosok wanita yang memperjuangkan emansipasi wanita di Indonesia. Beliau berjuang lewat tulisan, salah satu yang terkenal adalah Habis Gelap Terbitlah Terang. Atas perjuangan wanita Jepara tersebut, wanita Indonesia kini dapat merasakan sisi manisnya. Mereka punya akses yang lebar dalam mengenyam pendidikan dan mendapat pekerjaan. Diskriminasi gender semakin berkurang. Walaupun kadang masih ada satu dua oknum yang menganggap bahwa wanita itu lemah. Sebut saja oknum itu sebagai kaum patriarki, hehe. Akses yang lebar ini tentunya turut mempengaruhi pola pikir kaum wanita. Ada yang mendeklarasikan diri sebagai wanita alfa, ada pula yang masih berpikir bahwa pemenuhan kebutuhannya adalah kewajiba...

Corona, Oh.. Corona: Sedikit Opini Mengenai Covid-19

Halo semuanya! Selamat segala waktu. Akhir-akhir ini, semua media, baik cetak maupun daring, berlomba-lomba memberikan kabar mengenai virus Covid-19 atau akrab disebut virus Corona. Virus yang datang dari China ini sudah menewaskan 4.940 jiwa dari total 131.627 kasus di seluruh dunia ( https://www.kompas.com/tren/read/2020/03/14/080000165/pelajaran-dari-pasien-sembuh-virus-corona--jangan-panik-berikut-kisahnya-?page=1 ). Sementara itu, belum ditemukan antivirus untuk menangkal virus tersebut. Sumber ada pada gambar Gue tidak akan banyak menulis mengenai virus itu karena gue nggak mau apa yang gue tulis ini salah dan berujung pada hoaks. Gue sadar diri kalau pengetahuan gue tentang virus itu masih sangat sedikit. Cukup kalian baca artikel dari WHO atau laman berita untuk mengetahui Corona lebih lanjut. Gue di sini cuma akan membagikan opini mengenai dampak yang gue rasain secara pribadi--atau mungkin yang dirasain juga sama mahasiswa kayak gue. Beberapa waktu lalu, tepatnya Jum...

IWD 2020 #EachForEqual: Karena Wanita Tak Hanya Sekadar Ingin Dimengerti

Jadi perempuan itu bagaikan dua sisi koin. Di satu sisi, perempuan itu punya privilese untuk dijaga, dilindungi, diperlakukan dengan lembut, dan diagungkan kecantikannya. Namun, di sisi lain, privilese itu bisa saja jadi lingkaran setan bagi mereka. Harus dijaga dan dilindungi, nanti dianggap lemah. Harus diperlakukan dengan lembut, nanti dianggap manja. Diagungkan kecantikannya, akhirnya muncul standar kecantikan yang dikompetisikan. Jadi perempuan itu (katanya) harus serba bisa. Bisa sekolah tinggi dan cari uang sendiri akan dianggap pandai. Namun, kerjaan rumah harus tetap selesai, mengurus anak tak boleh lalai, dan menyenangkan suami di ranjang harus piawai. Sayangnya, jadi perempuan itu punya banyak risiko: jadi korban marginalisasi dan subordinasi, jadi objek seksualitas, suaranya kurang didengar, didiskriminasi, dibatasi ruang geraknya, dan resiko lain yang mewarnai hidupnya. Perempuan dituntut untuk manut . Dilarang membangkang, apalagi memberontak. Kebebasan seakan...

Setelah Tiga Kali Gagal Nonton Show Cerita Cintaku Raditya Dika, Akhirnya...

Hai, semuanya! Selamat segala waktu. Kalian tahu special show -nya Bang Raditya Dika yang tajuknya Cerita Cintaku, nggak? Itu, tuh, yang sering jadi trending di Youtube. Videonya sih cuma tentang Bang Dika pas baca dan roasting cerita cintanya penonton sih, karena emang Bang Dika kayaknya nggak mau menggunggah show -nya secara lengkap. Jadi, bisa dibilang kalau stand up comedy -nya Bang Dika tahun ini tuh beda dari tahun-tahun sebelumnya. Setiap tahun Bang Dika biasanya selalu menggunggah SUCRD di Youtube, tapi tahun ini tour special show -nya itu videonya dijual di website Cerita Cintaku. Kalian cek aja sendiri deh, kalau gue sertain hyperlink -nya di sini ntar disangkain ngendorse, heuheu . Gue sebagai.. ya, bisa dikatakan penggemarnya Bang Dika, pastinya merasa antusias dengan show ini dong. Apalagi, menurut gue harga tiketnya bisa dibilang terjangkau untuk ukuran komika level Raditya Dika. Namun, keantusiasan gue ini juga diiringi dengan rasa males dan gampang lupanya gue b...

#3: Gaun Putih

Coba tebak, apa yang sedang aku bayangkan sekarang? Aku sedang membayangkan hari bahagiamu nanti. Dalam bayanganku, hari itu kau sangat terlihat tampan. Jas dan celana bahan putih menyelimuti tubuhmu yang agak gempal itu. Dasi berwarna hitam menyembul sedikit di antara kancing jasmu, seakan dia ingin jadi saksi betapa bahagianya kamu hari itu. Sepatu pantofel berwarna hitam mengkilat melengkapi penampilanmu. Tak lupa, peci putih menutup rambutmu yang lebat itu. Hhmm... aku rasa tanpa peci pun kamu sudah cukup menarik. Hanya perlu sedikit minyak rambut dan voila , kau bagai raja hari itu. Aku bisa bayangkan seperti apa mempelaimu nanti. Gaun putih bersih dengan sedikit ornamen mutiara menutupi tubuh indahnya. Roknya yang mekar membuat high heels putihnya terlihat sedikit. Wajahnya dirias dengan natural, sesuai permintaanmu. Katamu, kamu ingin melihat wajahnya tanpa riasan berlebih pada hari bahagia kalian. Hijabnya ditata dengan sederhana, sesuai permintaanmu juga. Hari itu, perempuan ...

Teman Tapi Menikah 2: Suka Duka Ayu-Ditto Jadi Pengantin Baru

Hai, semuanya! Selamat segala waktu. Pada malam Minggu yang sendu kelabu ini, gue ingin membagikan ulasan gue tentang satu film yang baru rilis 27 Februari lalu. Yap, Teman Tapi Menikah 2 . Gue nontonnya kemarin dan aslinya gue bingung mau mengulas dari segi mana karena menurut gue film ini genrenya semacam slice of life gitu. Namun, ada satu hal yang bisa gue pelajari dari film berdurasi 1 jam 46 menit ini. Penasaran? Yuk, baca sampai selesai, ya. Sumber: Instagram @falconpictures_ Film Teman Tapi Menikah 2 ini merupakan kelanjutan dari film sebelumnya yang rilis pada Maret 2018. Namun, ada yang berbeda dari film ini. Pada film pertama, tokoh Ayu diperankan oleh Vanesha Prescilla. Sementara pada film kedua ini, posisi Vanesha digantikan oleh Mawar Eva. Pemeran Ditto tetep sama, yaitu Adipati Dolken. Menurut gue, pergantian pemeran Ayu tersebut nggak mempengaruhi jalan cerita. Bahkan, akting Mawar sebagai ibu-ibu muda yang baru pertama kali hamil bisa dibilang cukup bagus. G...