Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label ruang cerita

#5: Rapuh

Aku sedang bertahan dengan manusia yang… kau tahu, rapuh. Entah sudah berapa banyak tenaga yang ia habiskan untuk bertahan hidup. Entah sudah berapa banyak kekuatan yang ia gunakan untuk berdiri dengan kakinya sendiri. Entah sudah berapa kali ia menghabiskan waktunya untuk meratapi dan mengasihani diri sendiri. Ia hanya butuh tempat untuk bernaung dan berteduh. Tempat untuk membasuh segala luka yang bekasnya tak mungkin bisa hilang. Tempat yang aman, nyaman, tentram, dan damai. Bukan rumah, melainkan seseorang. Aku mencalonkan diri sebagai orang yang mampu menyediakan semua fasilitas yang ia inginkan itu. Kau tahu, apa yang ia lakukan? Ia datang dengan senyum merekah dan tawa lebar, seakan ia tak membawa beban. Alih-alih fokus pada tujuan awalnya, ia malah membuat tujuan baru: membahagiakan aku. Ia selalu berhasil melukis senyum di wajahku, membuat tawaku tak pernah berhenti. Ia juga pernah membuatku menangis, marah, dan kecewa. Namun, ia selalu punya cara untuk membuatku kem...

#4: Perjumpaan

Aku rindu. Kala sore duduk di taman bersamamu. Angin lembut membelai pipiku, menggoyangkan rambutmu. Ia seakan ingin bergabung dalam obrolan seru kita. Tak ingin ketinggalan barang hanya satu kata. Obrolan itu tak pernah terencana. Lahir dan mengalir begitu saja. Kadang-kadang dimulai dari suatu pernyataan "seandainya". Mata kita menerawang jauh. Menembus batas-batas dimensi. Mengimajinasikan apa yang pantas diandaikan. Sesekali kita tertawa, sadar bahwa semua hanya ilusi belaka. Pernah juga suatu kali, obrolan kita terlalu dalam, hingga membuat salah satu di antara kita menangis. Tentang bagaimana hubungan kita nanti, tentang masa depan yang tak jelas, tentang semua yang abu-abu—topiknya tak jauh dari semua itu. Pernah juga tentang beban yang kita tanggung masing-masing: tanggung jawab di keluarga, beban moral yang entah asalnya dari mana, hingga kondisi mental kita. Tak jarang pula kita saling melempar opini. Baik aku maupun kamu tak ingin kalah. Kita beradu pendapat, kadan...

#3: Gaun Putih

Coba tebak, apa yang sedang aku bayangkan sekarang? Aku sedang membayangkan hari bahagiamu nanti. Dalam bayanganku, hari itu kau sangat terlihat tampan. Jas dan celana bahan putih menyelimuti tubuhmu yang agak gempal itu. Dasi berwarna hitam menyembul sedikit di antara kancing jasmu, seakan dia ingin jadi saksi betapa bahagianya kamu hari itu. Sepatu pantofel berwarna hitam mengkilat melengkapi penampilanmu. Tak lupa, peci putih menutup rambutmu yang lebat itu. Hhmm... aku rasa tanpa peci pun kamu sudah cukup menarik. Hanya perlu sedikit minyak rambut dan voila , kau bagai raja hari itu. Aku bisa bayangkan seperti apa mempelaimu nanti. Gaun putih bersih dengan sedikit ornamen mutiara menutupi tubuh indahnya. Roknya yang mekar membuat high heels putihnya terlihat sedikit. Wajahnya dirias dengan natural, sesuai permintaanmu. Katamu, kamu ingin melihat wajahnya tanpa riasan berlebih pada hari bahagia kalian. Hijabnya ditata dengan sederhana, sesuai permintaanmu juga. Hari itu, perempuan ...

#2: Teruntuk Jiwa yang Kecewa

Minggu ke-46 tahun 2019. Satu hal yang baru kuketahui ketika sedang beranjak dewasa adalah kewajiban untuk menerima masalah. Iya, hanya menerima. Baru kusadari ternyata masalah kadang hadir tanpa sebuah solusi. Kita hanya perlu mengikhlaskan dan melupakan masalah itu, setidaknya untuk membuat kita sedikit lega. Ah, kata siapa? Lega memang. Namun, masalah itu tertimbun sedikit demi sedikit, dan duar .. tinggal menunggu waktu ia meledak dan merusak semuanya. Beberapa manusia memilih untuk mengabaikan masalah itu dengan melakukan hal yang secara tidak sadar merusak raganya. Katanya, rasa sakit itu tak sebanding dengan masalah yang menikam semangat hidupnya. Beberapa yang lain memilih untuk menyimpan masalah itu untuk dirinya sendiri, menangisinya tiap malam, hingga membuatnya terlelap dalam mimpi indah yang sayangnya hanya sekadar fatamorgana. Mari kuceritakan tentang seseorang yang pandai menyimpan masalahnya untuk dirinya sendiri. Dia orang yang cukup kuat, sangat kuat mungkin bisa kubi...

Catatan Aksi 24 September 2019

Halo, semuanya! Selamat segala waktu. Dua hari yang lalu, tepatnya 23 September 2019, beberapa daerah di Indonesia mengadakan aksi mahasiswa, ada Jogja dengan #GejayanMemanggil, ada Solo dengan #BengawanMelawan, ada Surabaya dengan #SurabayaMenggugat, dan lain-lain. Aksi-aksi tersebut dilakukan dalam rangka menggugat agar diadakannya revisi UU KPK dan menolak RKUHP. Para demonstran didominasi oleh mahasiswa dari berbagai kampus. Sebelumnya, minggu lalu, tepatnya Selasa, 17 September, telah diadakan aksi serupa. Namun, aksi tersebut fokus pada penolakan RUU KPK dan RUU PKS (Penghapusan Kekerasan Seksual). Aksi tersebut dinamai dengan aksi Reformasi Dikorupsi dan diadakan di depan Gedung DPR/MPR. Kemarin. Selasa, 24 September, telah berlangsung aksi besar-besaran yang diikuti oleh seluruh mahasiswa di Jakarta dan sekitarnya. Terdapat puluhan kampus yang bergabung dalam aksi Tuntaskan Reformasi tersebut. Bisa dibilang, aksi ini lebih besar dari aksi sebelumnya karena bertepat...

#1: Dia Dikelilingi Gadis Cantik

Dia dikelilingi oleh para gadis cantik. Lihat saja mereka, wajah mereka begitu terawat dan putih berseri, seakan kulit bayi mereka tidak berganti menjadi kulit orang dewasa. Riasan itu, ah, aku yakin mereknya tidak abal-abal. Mata mereka yang bulat tampak semakin indah dengan goresan eye-liner . Bulu mata mereka begitu lentik. Alis mereka tergambar dengan apik oleh pensil alis masa kini. Dan eye-shadow tipis di kelopak mata mereka, semakin membuktikan eksistensi mereka sebagai pemilik mata yang indah. Lipstik warna pink nude ditambah blush-on warna peach membuat mereka tampak manis. Terakhir, sentuhan bedak menyempurnakan riasan natural mereka. Dia dikelilingi oleh para gadis yang wangi. Cium saja aromanya. Kau tidak akan menemukan wewangian itu dari parfum yang dijual di minimarket pinggir jalan. Tidak hanya bajunya, bahkan dari kulit tangan mereka pun tercium aroma mawar. Entah sabun jenis apa itu, aku tak pernah tahu ada sabun beraroma mawar sepekat itu. Rambut mereka yang hitam...