Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label ruang nyampah

Semester Awal 2020: Ambyar!

Halo, semuanya. Selamat segala waktu! Gimana kabarnya? Gimana kehidupannya? Semoga kalian dan kehidupan kalian tetap baik-baik saja di tengah masa-masa yang sedang tidak baik-baik saja ini, ya. Enam bulan awal tahun 2020 ini mungkin memang terasa berbeda bagi banyak orang di seluruh dunia. Gimana nggak, kemunculan virus baru bernama Corona bener-bener mengganggu semua aspek kehidupan. Nggak usah jauh-jauh kita bahas soal ekonomi atau sosial deh, kehidupan pribadi kita aja bener-bener berubah abnormal: yang biasanya bisa belajar di sekolah atau kampus, sekarang cuma bisa belajar di rumah; yang biasanya kerja berangkat pagi pulang malem, sekarang cuma bisa ngerjain semuanya dari rumah, bahkan nggak sedikit juga yang harus dihentikan paksa oleh kantornya; yang biasanya bisa nongkrong sama temen-temennya, sekarang cuma bisa bersua via daring; yang biasanya punya jadwal kencan, sekarang cuma bisa video call- an. Dibilang kacau mungkin terlalu berlebihan, tapi keadaannya memang nggak sebaik ...

Catatan Khusus Hari Kartini: Jadi Wanita Mandiri atau Bergantung pada Lelaki?

Halo, semuanya. Selamat segala waktu. Tentu kita tahu bahwa hari ini Indonesia sedang memperingati hari kelahiran salah satu pahlawan wanita di Indonesia. Apa lagi kalau bukan Hari Kartini. Seperti yang kita pelajari di buku Ilmu Pengetahuan Sosial sejak SD sampai SMA, Raden Ajeng Kartini merupakan sosok wanita yang memperjuangkan emansipasi wanita di Indonesia. Beliau berjuang lewat tulisan, salah satu yang terkenal adalah Habis Gelap Terbitlah Terang. Atas perjuangan wanita Jepara tersebut, wanita Indonesia kini dapat merasakan sisi manisnya. Mereka punya akses yang lebar dalam mengenyam pendidikan dan mendapat pekerjaan. Diskriminasi gender semakin berkurang. Walaupun kadang masih ada satu dua oknum yang menganggap bahwa wanita itu lemah. Sebut saja oknum itu sebagai kaum patriarki, hehe. Akses yang lebar ini tentunya turut mempengaruhi pola pikir kaum wanita. Ada yang mendeklarasikan diri sebagai wanita alfa, ada pula yang masih berpikir bahwa pemenuhan kebutuhannya adalah kewajiba...

Corona, Oh.. Corona: Sedikit Opini Mengenai Covid-19

Halo semuanya! Selamat segala waktu. Akhir-akhir ini, semua media, baik cetak maupun daring, berlomba-lomba memberikan kabar mengenai virus Covid-19 atau akrab disebut virus Corona. Virus yang datang dari China ini sudah menewaskan 4.940 jiwa dari total 131.627 kasus di seluruh dunia ( https://www.kompas.com/tren/read/2020/03/14/080000165/pelajaran-dari-pasien-sembuh-virus-corona--jangan-panik-berikut-kisahnya-?page=1 ). Sementara itu, belum ditemukan antivirus untuk menangkal virus tersebut. Sumber ada pada gambar Gue tidak akan banyak menulis mengenai virus itu karena gue nggak mau apa yang gue tulis ini salah dan berujung pada hoaks. Gue sadar diri kalau pengetahuan gue tentang virus itu masih sangat sedikit. Cukup kalian baca artikel dari WHO atau laman berita untuk mengetahui Corona lebih lanjut. Gue di sini cuma akan membagikan opini mengenai dampak yang gue rasain secara pribadi--atau mungkin yang dirasain juga sama mahasiswa kayak gue. Beberapa waktu lalu, tepatnya Jum...

IWD 2020 #EachForEqual: Karena Wanita Tak Hanya Sekadar Ingin Dimengerti

Jadi perempuan itu bagaikan dua sisi koin. Di satu sisi, perempuan itu punya privilese untuk dijaga, dilindungi, diperlakukan dengan lembut, dan diagungkan kecantikannya. Namun, di sisi lain, privilese itu bisa saja jadi lingkaran setan bagi mereka. Harus dijaga dan dilindungi, nanti dianggap lemah. Harus diperlakukan dengan lembut, nanti dianggap manja. Diagungkan kecantikannya, akhirnya muncul standar kecantikan yang dikompetisikan. Jadi perempuan itu (katanya) harus serba bisa. Bisa sekolah tinggi dan cari uang sendiri akan dianggap pandai. Namun, kerjaan rumah harus tetap selesai, mengurus anak tak boleh lalai, dan menyenangkan suami di ranjang harus piawai. Sayangnya, jadi perempuan itu punya banyak risiko: jadi korban marginalisasi dan subordinasi, jadi objek seksualitas, suaranya kurang didengar, didiskriminasi, dibatasi ruang geraknya, dan resiko lain yang mewarnai hidupnya. Perempuan dituntut untuk manut . Dilarang membangkang, apalagi memberontak. Kebebasan seakan...

Setelah Tiga Kali Gagal Nonton Show Cerita Cintaku Raditya Dika, Akhirnya...

Hai, semuanya! Selamat segala waktu. Kalian tahu special show -nya Bang Raditya Dika yang tajuknya Cerita Cintaku, nggak? Itu, tuh, yang sering jadi trending di Youtube. Videonya sih cuma tentang Bang Dika pas baca dan roasting cerita cintanya penonton sih, karena emang Bang Dika kayaknya nggak mau menggunggah show -nya secara lengkap. Jadi, bisa dibilang kalau stand up comedy -nya Bang Dika tahun ini tuh beda dari tahun-tahun sebelumnya. Setiap tahun Bang Dika biasanya selalu menggunggah SUCRD di Youtube, tapi tahun ini tour special show -nya itu videonya dijual di website Cerita Cintaku. Kalian cek aja sendiri deh, kalau gue sertain hyperlink -nya di sini ntar disangkain ngendorse, heuheu . Gue sebagai.. ya, bisa dikatakan penggemarnya Bang Dika, pastinya merasa antusias dengan show ini dong. Apalagi, menurut gue harga tiketnya bisa dibilang terjangkau untuk ukuran komika level Raditya Dika. Namun, keantusiasan gue ini juga diiringi dengan rasa males dan gampang lupanya gue b...

Ganti Nama!

Hai, selamat segala waktu. Minggu pertama Februari udah terlewati, nih. Gimana? Udah mulai merasakan sesuatu nggak pada tahun 2020 ini? Kalau belum, wajarlah, baru lewat satu bulan. Sabar, ya. Masih ada ratusan hari lagi sebelum 2020 berakhir. Bagaimana dengan gue? Hhmm... Gue masih dalam proses self-healing, self-forgiveness , dan self-self yang lain (kecuali self-blaming, self-harm , dan lain-lain yang sejenis tentunya). Sederhananya, gue sedang menata hidup. Tahun 2019 yang berat kemarin memberi banyak pelajaran ke gue dan tahun 2020 ini gue diberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Mulai dari mana? Gue mulai berusaha menanamkan pikiran bahwa semua yang udah berlalu, biarlah berlalu. Menyalahkan diri sendiri nyatanya nggak menghasilkan apa-apa, malah bikin gue makin tersiksa. Gue udah sampai sini dan nggak mungkin putar balik. Jalani aja yang udah ada dengan cara yang lebih baik dan hati-hati tentunya. Oiya, pahami juga kalau masing-masing orang punya jalannya sendiri. Kecepatannya...

2019 itu...

Hai, semuanya. Selamat segala waktu. Tiga ratus enam puluh hari sudah selesai kita lalui. Apa yang membuat bahagia, patut untuk dipertahankan. Apa yang menyakitkan, sebaiknya diabaikan dan dijadikan pelajaran. Semua yang terjadi pasti beralasan, ada sebab akibat di baliknya. Waktunya mengambil langkah baru, menuju dekade selanjutnya yang (semoga) lebih baik. Gimana 2019 kalian? Menyenangkan? Menyedihkan? Memuakkan? Atau gimana? Apapun itu, semoga hidup kalian saat ini masih baik-baik saja, ya. Semoga kalian tetap dalam keadaan sehat, tidak dirundung masalah besar, dikelilingi orang-orang baik, dan yang paling penting selalu bahagia. Gimana 2019 gue? Hehe, sorry to say , but 2019 is fucking hard for me. Masalah nggak pernah absen datang di hidup gue. Satu selesai, satunya lagi datang. Mereka nggak pernah lelah buat bikin gue menyerah. Mereka nggak pernah capek buat bikin gue demotivasi, berhenti menjalani hidup, apapun itu. Masalah-masalah itu seakan ingin jadi teman baik...