Langsung ke konten utama

Postingan

Relationship Goals Itu...

Hai, selamat segala waktu! Akhir-akhir ini, gue sering banget liat di explore Instagram posting -an beberapa pasangan selebgram yang memamerkan kemesraan. Itu sebenarnya udah lama ada sih, tapi nggak tau kenapa jadi sering muncul di explore gue. Ada beberapa temen gue juga yang ngunggah posting -an mereka di story dan disertai tulisan seperti 'gemesh', 'lucu banget', dan lain-lain yang mencerminkan bahwa mereka mengagumi kemesraan itu. Mereka itu juga pasangan yang macem-macem, ada yang cuma pacaran, ada juga yang udah nikah (tapi nikahnya nikah muda). Nggak tau kenapa, ada yang gue resahkan ketika menonton mereka. Gue nggak tau apakah kalian juga punya keresahan yang sama atau nggak, tapi gue pengen membagikan keresahan gue ini. Fyi , gue nggak jomblo. Gue punya hubungan yang udah berjalan lebih dari 12 bulan. Sebagai orang yang menjalin hubungan, nggak mungkin dong gue nggak punya masalah sama pasangan gue. Bahkan, hampir setiap hari ada aja yang kami perdebatkan...

Prospek Kerjanya Apa, Kak?

Halo, semuanya! Selamat segala waktu! Untuk kedua kalinya, liburan semester ganjil gue disibukkan dengan kegiatan sosialisasi kampus. Dari hari Senin sampai Jumat, gue dan temen-temen menyosialisasikan universitas kami dari satu sekolah ke sekolah lain. Kegiatan ini berlangsung sekitar dua Minggu. Selama itu, kami bertemu dengan anak-anak kelas 12 dengan berbagai karakter. Ada yg sangat antusias menyambut kami, ada juga yang sangat malas bahkan nggak mendengarkan pemaparan kami. Yaa, itu sedikit mengingatkan kami tentang masa SMA kami dulu sih, hehe. Entah kenapa, kegiatan ini terasa berbeda dari tahun kemarin. Gue ngerasa kalau kami bisa lebih dekat dengan anak-anak kelas 12-nya. Kami mengadakan mentoring, mendengarkan keluh kesah mereka secara langsung, dan memberikan masukan sesuai dengan pengalaman kami. Selain itu, gue rasa mereka lebih antusias untuk kuliah daripada peserta tahun lalu. Walaupun mereka kalah banyak dari peserta tahun lalu sih, tapi keantusiasan mereka lebih terl...

2019 Ganti Apa?

Hai, semuanya! Selamat segala waktu! 2019 tinggal hitungan jam nih. Kita tau sendiri bahwa 2019 tuh identik dengan tagar 2019ganti blablabla. Bukan mau kampanye atau apa, 2019 mah emang harus ganti sesuatu. Ganti apapun boleh lah, termasuk ganti resolusi. Sebelum membuat resolusi, ada baiknya kita flashback sedikit tentang apa yang udah dan belum kita capai di tahun 2018. Di ruang kali ini, gue bakal bikin blog rewind 2018 versi gue. Terkesan dipaksain emang karena pada umumnya orang-orang taunya Youtube rewind wkwk. Tapi gapapa, sedikit beda lebih baik daripada sedikit lebih bagus (ini gue lupa quote -nya siapa, yang merasa punya quote ini gue izin ngutip yaa). Bisa dibilang, 2018 ini tahun yang berkesan buat gue. Karena apa? Karena pada tahun ini, blog gue bisa aktif lagi yuhuuuu. Pada awalnya, gue pengennya blog ini bisa full bahasa Indonesia. Namun, pada akhirnya gue campur juga pake bahasa Inggris. Hehe, maapkeun. Namanya juga anak muda, lagi labil-labilnya. Walaupun begit...

Dear Nathan Hello Salma: Mental Illness dalam Kehidupan Remaja

Halooo. Selamat segala waktu! Setelah sekian lama nggak nulis tentang film karena kurang bahan dan gue rasa nggak ada yang perlu gue tulis, akhirnya gue dapet bahan dan nulis lagi. Kali ini yang bakal gue bahas adalah film yang masih anget nih, yaitu Dear Nathan Hello Salma . Di Ruang Film kali ini, gue mau nulis tentang sudut pandang masalah yang gue dapet dari film yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama ini. Penasaran? Baca aja sampai selesai, ya! Dear Nathan Hello Salma ini merupakan film sekuel dari film Dear Nathan . Film ini menceritakan tentang hubungan Nathan (Jefri Nichol) dan Salma (Amanda Rawles) yang penuh dengan konflik dan terancam berakhir. Kehadiran tokoh baru seperti Rebecca (Susan Sameh), Papa Salma (Gito Gilas), dan Ridho (Devano Danendra) membuat konflik mereka penuh drama. Gue nggak mau menceritakan sinopsis karena itu udah terlalu mainstream . Yang mau gue bahas adalah salah satu sudut pandang yang menarik dari film ini, yaitu mental illness . Kalia...

Dekade Kedua

"Jika Jakarta adalah seorang laki-laki, maka aku akan mencintainya, bahkan berambisi untuk memilikinya." -arpd Ini tentang perjalanan gue. Tentang peralihan dari 'belas' ke 'puluh'. Tentang pelajaran hidup yang gue dapat setelah gue memutuskan untuk merantau. Tentang bagaimana cara bertahan hidup dan berkembang di tempat asing. Tentang bagaimana gue belajar untuk mencintai jarak. Udah setahun lebih gue singgah disini, Jakarta. Lima puluh persen lebih dari waktu itu semua, gue pakai di sini. Oke, mungkin tempat gue singgah bukan di Jakarta, tapi di Depok. Tapi yaa.. anggep aja gue di Jakarta hehe. Pemikiran pertama yang terlintas di benak gue soal Jakarta adalah: Jakarta itu keras, jahat, dan wah. Tapi gue mencoba untuk tidak mempermasalahkan hal itu. Toh, itu nggak ada hubungannya sama kehidupan gue. Jadi, gue yakin gue bisa melalui itu semua tanpa mengganggu dinamika kehidupan gue sendiri. Jakarta itu, bagi gue, adalah kota dengan paket lengkap. Ibarat ma...

Problematika Kesendirian

Hai, semua. Selamat segala waktu! Sendiri. Ada nggak, di antara kalian yang suka sendiri? Suka menyendiri gitu. Saking suka sendirinya, kalian kemana-mana sendiri dan nggak takut buat sendirian walaupun jalanan lagi sepi atau pas malem hari. Nggak jarang orang ngeliat aneh ke kalian. Tatapan mereka tuh seakan berkata, "Nih anak ngapain dah sendiri mulu? Nggak punya temen kali, ya?" Nggak tau kenapa, gue punya kecenderungan suka menyendiri. Nggak bikin gerombolan aneh-aneh, nggak suka nongkrong di kantin bareng orang banyak, atau ngelakuin sesuatu rame-rame. Gue lebih suka jalan kaki sendirian, duduk-duduk doang sambil main ponsel, ke perpustakaan sendiri walaupun cuma numpang wifi -an, atau apapun itu pokoknya sendiri. Bahkan, pas lagi di tempat rame pun, kadang gue merasa sendiri. Paradoks emang hidup gue ini. Eett, tapi jangan sebut gue antisosial ya. Gue tau gimana caranya bersosialisasi dengan baik kok. Gue tau gimana harus sopan santun ke orang yang lebih tua, caranya...

Bosen? Ini Obatnya...

Hai, kalian! Selamat segala waktu! Udah lama banget ya gue nggak nyapa kalian. Kangen nggak? Enggak? Yaudah makasih:) Btw , pernah nggak sih kalian ngerasain bosen sama sesuatu? Bosen sama tugas sekolah atau kuliah yang nggak kelar-kelar. Bosen sama kerjaan yg itu-itu aja. Bosen sama hidup yang klise dan monoton. Bosen ngejomblo. Bosen pacaran gitu-gitu aja. Intinya bosen sama apapun deh. Pasti pernah, kan? Bahkan pasti ada yang sering ngerasain itu. Hhmm... kira-kira kenapa ya? Menurut KBBI, bosen (kata bakunya bosan) berarti sudah tidak suka lagi karena sudah terlalu sering atau banyak. Bosen ini bisa kita rasain karena beberapa faktor. Misalnya karena sesuatu yang berjalan begitu-begitu aja, terlalu sering menjalani atau menikmati sesuatu berulang-ulang, atau mungkin keinginan untuk keluar dari zona nyaman. Nahh sebenernya tuh wajar nggak sih kalau kita terlalu sering bosen sama sesuatu? Dikutip dari fakta.news , sebuah penelitian di Inggris menyebutkan bahwa 63% generasi mileni...